halaman

Gangs of New York [2002]

Sebuah film tentang kondisi masyarakat sebuah kota besar pada jamannya. New York pertengahan abad ke-18 menjadi setting film ini. Didalam suasana masyarakat yang serba kacau dengan pemerintahan yang kurang mendapat tempat bagi masyarakatnya, disebabkan karena banyaknya imigran dari Eropa yang membanjiri New York. Persaingan antara kaum pendatang dan kaum pribumi yang telah lama datang terlebih dahulu menjadi inti cerita film ini. Dibawah ini adalah sinopsis dari film yang dibintangi oleh Leonardo Di Caprio, Liam Nesson, Cameron Diaz, Daniel Day Lewis dan banyak lagi bintang film Hollywood.
Adegan film dibuka dengan tampilnya pendeta Vallon ( diperankan oleh Liam Nesson) yang sedang mencukur jambangnya dengan sebuah pisau cukur tua yang sudah mulai berkarat. Dia dengan sengaja mengiris pipinya dengan pisau tersebut dan memberikan pisau itu pada Amsterdam ( Leonardo Di Caprio ), anaknya, yang kemudian menyeka tetesan darahnya dengan agak takut. Pendeta Vallon menasihati anaknya agar segera meninggalkan tempat itu, lalu pisau itu diberikan pada Amsterdam yang kemudian menyimpannya dalam sebuah wadah berbentuk kotak hitam bertanda sebuah salib berwarna perak ( yang sangat penting nantinya ). Pendeta Vallon memanjatkan doa pada Santo Michael, lalu menempelkan medali pada kepala Amsterdam. Dia meraih salib besar dan berjalan keluar dari gua bersama Amsterdam.
Mereka berjalan melewati kerumunan orang yang sedang merakit dan menyelesaikan pembuatan senjata. Diantaranya terdapat seorang wanita dengan sarung tangan bercakar bernama "Hell Cat" Maggie. Vallon, Amsterdam dan yang lainnya menerima sebuah komunion dan melanjutkan langkah meninggalkan gua, tepatnya ruang bawah tanah. Mereka akhirnya sampai di sebuah pabrik bir tua. Mereka berhenti dan Pendeta Vallon berbicara pada seorang pria bernama Monk, bahwa ia akan bergabung dengan Monk dan kawan-kawannya. Monk bilang bahwa mereka akan ikut bertarung jika mendapat bayaran, Vallon menjanjikan sepuluh dollar, Monk setuju lalu mengambil tongkat kayu. Mendobrak pintu dan siap menghadapi dinginnya persimpangan yangdipenuhi salju yang terkenal dengan sebutan alun-alun Paradise.
Vallon bersama Monk dan gengnya, Death Rabbit, keluar dari pabrik bir menuju jalanan. Amsterdam berlari menjauh dan bergabung dengan anak-anak lainnya ke sebuah gedung di seberang jalan. Sementara geng Death Rabbit berdiri menunggu kedatangan musuhnya dari geng pribumi. Beberapa saat kemudian, puluhan lelaki datang di pimpin oleh Bill "si tukang" jagal" ( diperankan oleh Daniel Day Lewis ) yang berbaju biru, seorang pribumi kota New York yang sangat kejam, melangkah ke tengah jalan. Bill menghitung jumlah anggota geng Death Rabbit lalu berkata bahwa siapa saja yang akan memenangi perang antar geng itu akan menguasai Five Points. Bill yang Protestan atau Vallon yang Katholik. Vallon membantah bahwa ini adalah negara bebas, bahwa ia dan para imigran telah lama mendapat gangguan dari Bill dan anak buahnya.
Geng Death Rabbit, Vallon dan beberapa geng lainnya bergabung dalam sebuah aliansi. Dengan jumlah mereka yang bertambah besar, mereka tampaknya siap dalam perang antar geng tersebut. Beberapa saat kemudian dimulailah pertempuran itu. Monk memukul kepala seseorang, Maggie menggigit telinga seorang pria, sementara yang lain saling serang, saling pukul, saling tusuk. Seorang pria tampak menjerit kesakitan karena kakinya telah dipatahkan. Bill dan Vallon perlahan mulai mendekat dan hampir berhadapan satu sama lain. Tetapi saat Vallon sudah mendekati Bill, seorang anak buah Bill menyerang Vallon dan Vallon berhasil membunuhnya. Sekarang Bill dan Vallon saling berhadapan, dalam pertarungan Bill berhasil menusuk Vallon. Vallon berusaha melawannya namun lagi-lagi Bill berhasil menikam bahunya, Vallon terjerembab jatuh ketanah. Teriakan keras Bill menghentikan pertempuran tersebut. Semua orang berhenti berkelahi dan yang masih bisa lari mereka segera melarikan diri. Sesudah itu semua mengelilingi Vallon yang sekarat.
Amsterdam bergegas lari menuju kerumunan dan merangsek masuk untuk menemui ayahnya, Vallon. Bill dengan jumawa masih berteriak atas kemenangan dalam bentrok tersebut. Vallon menatap anaknya dan berkata memberi nasihat sambil menahan sakit. Vallon meminta Bill segera menyelesaikannya, Bill menyetujuinya lalu meninggalkan pisau yang menancap didada Vallon. Bill berkata bahwa Vallon mati dengan penuh kehormatan dan mesti mendapat penghormatan yang layak. Monk meminta agar Vallon tak mati dulu sebab ia masih berhutang kepadanya. Monk menggerayangi kantong Vallon dan mengambil uang miliknya di celana Vallon. Baru kemudian ia memberi penghormatan dan tanda bela sungkawa pada Amsterdam seiring hembusan napas terakhir Pendeta Vallon. Anak buah Monk yang tersisa kemudian mengangkat tubuh Vallon. Sementara seorang anak buah Bill menanyakan akan diapakan anak Vallon itu. Bill menjawab Amsterdam akan dirawat dan disekolahkan agar mendapat pendidikan yang cukup. Amsterdmm yamg penuh amarah atas kematian ayahnya meraih pisau yang menancap didada ayahnya lalu mengancam anak buah Bill dan berlari menuju kedalam pabrik bir. Beberapa ank buah Bill mengejar, tapi Amsterdam berhasil menendang tulang kering seorang pria pengejarnya hingga terjatuh. Amsterdam terus berlari memasuki ruang bawah tanah, membuka kotak rahasia yang dipendamnya dan memasukkan medali dan pisau lalu kembali menguburkannya dalam tanah. Anak buah Bill lalu menangkapnya.
Five Points tempat terjadinya bentrok antar geng tersebut berada di Manhattan pinggiran diceritakan terjadi pada tahun 1846. Dan enambelas tahun kemudian, Amsterdam yang sudah dewasa sedang diberkati oleh seorang pendeta. Ternyata dia masih berada di New York dalam sebuah panti asuhan, Hell Gate, di sebuah pulau dekat dengan Manhartan.
Sewaktu Amsterdam akan pergi meninggalkan Hell Gate, Amsterdam melihat seorang Asia berlari di atas jembatan dan membuang AlKitab ke sungai. Sementara di lain tempat, Bill "si tukang jagal" sedang berjalan-jalan dari gedung Tammany ke gedung pos milik Tweed ( diperankan oleh Jim Broadbent ) yang menjadi pejabat politik setempat. Tweed sedang berdiskusi bagaimana caranya agar bisa mendapatkan suara dari para calon pemilih. Mewakili suara mereka untuk melayani orang-orang miskin di kota.
Amsterdam yang sedang berjalan disekitar pelabuhan melihat banyak orang imigran dari Irlandia turun dari kapal. Para imigran tersebut diganggu oleh anak buah Bill, terutama seorang wanita tua yang dipukul wajahnya dengan sesuatu dan meneriakinya untuk kembali ke kapal. Ia terjatuh ke tanah dan ditolong oleh seorang pria terhormat dan beberapa anak kecil. Amsterdam melewati mereka kemudian disambut oleh seorang pria yang mengiranya dia adalah salah seorang imigran. Pria tersebut menawarkan sekerat roti dan mengingatkan untuk nani jangan lupa memilih Tweed. Amsterdam juga ditawari untuk menjadi tentara, tapi ia menolaknya. Orang Irlandia lainnya ditawari uang, makan tiga kali sehari dan kemakmuran untuk keluarganya jika mau menjadi tentara. Pria itu setuju lalu didaftar dan disuruh masuk ke kapal yang disediakan.
Amsterdam melanjutkan langkahnya menuju kesebuah ruang bawah tanah yang dulu pernah dimasukinya sewaktu masih kecil. Ia mendapati kotaknya masih utuh lalu membuka dan mengambil isinya berupa medali dan sebuah pisau. Sejenak kemudian datanglah Johny Sirocco ( diperankan oleh Henry Thomas ) dan Jimmy Spoils ( diperankan Larry Gillard Jr.) dan mengganggu Amsterdam saat sedang berdoa. Mereka mengancam Amsterdam untuk menyerahkan harta bendanya, ketika ditolak, Jimmy berusaha menyerangnya. Amsterdam menangkis nya lalu memukul balik hidung Jimmy hingga hampir patah. Johny mengambil pisau saat Amsterdam memunggunginya laly berbalik melawan Johny. Dan saat berkelahi tersebut Johny dapat mengenali medali yang ada pada Amsterdam yang berlari keluar dari ruang bawah tanah tersebut. Johny mengikutinya sampai ke jalanan ia berkata bahwa Amsterdam adalah anak Pendeta Vallon. Amsterdam mengiyakan, dan Johny kemudian menerima Amsterdam menjadi sahabatnya. Menjadi anggota baru geng Five Points.
kelanjutannya silahkan nonton sendiri...
sumber : http://tabuhgong.blogspot.com

0 comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...